Bima Raya

Mengabarkan Lebih Luas

Didukung Pemerintah Pusat, Dayak Opera Nyai Nyalong Apoi Jadi Kebanggaan Baru Seni Pertunjukan Kalteng

BIMARAYA, PALANGKA RAYA – UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menjadi pusat perhatian para pencinta seni. Pada Jumat malam (20/02/2026), panggung budaya tersebut menyuguhkan pergelaran megah bertajuk “Dayak Opera Nyai Nyalong Apoi:Pertempuran Lima Ksatria” yang telah memasuki seri ketiga. Pergelaran ini merupakan produksi ke-40 dari Yayasan Rumah Budaya Pajawan Tingang.

Ketua Yayasan Rumah Budaya Pajawan Tingang, Arbendi I. Tue, mengungkapkan bahwa pementasan ini merupakan hasil seleksi ketat dan dukungan dari Pemerintah Pusat.

Proyek ini didanai melalui Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana) di bawah naungan Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP.

​”Ini adalah produksi kami yang ke-40. Kami berhasil lolos seleksi Dana Indonesiana tahun 2025 dan pementasan ini adalah bagian dari kontrak kerja sama yang dimulai sejak 1 Desember lalu,” jelas Arbendi.

​Menurut Arbendi, pemilihan format ‘Opera’ bukan tanpa alasan. Ia ingin menunjukkan bahwa seni tradisional Dayak memiliki kualitas yang sejajar dengan standar seni pertunjukan global.

​“Pesan utama kami adalah bahwa Dayak itu sangat kaya, namun terkadang kita sendiri lupa akan kekayaan itu. Lewat Dayak Opera, kami ingin memperkenalkan budaya kita tidak hanya di kancah lokal, tapi hingga panggung internasional. Opera adalah bahasa pertunjukan yang universal dan mendunia,” tegasnya.

Ditempat yang sama, Kepala UPT Taman Budaya Kalteng, Wildae D. Binti, menyatakan rasa bangganya atas terpilihnya Taman Budaya sebagai lokasi pementasan karya besar dari Yayasan Rumah Budaya Pajawan Tingang tersebut.

Menurutnya, kepercayaan ini merupakan wujud sinergi yang positif dalam melestarikan warisan leluhur.

“Tentunya kami dari Taman Budaya Kalimantan Tengah sangat bangga karena kembali diberikan kepercayaan untuk dapat dijadikan tempat pementasan karya dari Yayasan Rumah Budaya Pajawan Tingang ini,” ujar Wildae di sela-sela kegiatan.

Wildae berharap, konsistensi pementasan seni seperti Dayak Opera ini dapat menjadi stimulus bagi komunitas seni lainnya di Kalimantan Tengah. Ia mengajak para pelaku seni dan komunitas kampus untuk lebih aktif memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah daerah melalui Taman Budaya.

“Kami berharap kegiatan semacam ini nantinya bisa terus memotivasi rekan-rekan kampus seni lain dan dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh Taman Budaya Kalimantan Tengah,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tujuan utama dari setiap pergelaran ini adalah untuk memupuk kembali rasa bangga dan cinta generasi muda terhadap kekayaan intelektual suku Dayak.

“Ini semua dalam rangka kita meningkatkan kecintaan terhadap seni dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah,” pungkasnya.

Pergelaran ini sukses menyedot perhatian
warga Palangkaraya yang rindu akan tontonan teaterikal berbasis budaya lokal dengan sentuhan modern namun tetap menjaga nilai-nilai tradisional. (Bayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini