Bima Raya

Mengabarkan Lebih Luas

Hilangnya Semboyan ‘Adil Ka Talino’ di IKN Picu Protes, Gerdayak Desak Pemerintah Lebih Inklusif dan Hargai Kearifan Lokal

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Pemuda Dayak (DPN Gerdayak) Indonesia, Yansen A. Binti.

BIMARAYA, PALANGKA RAYA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Pemuda Dayak (DPN Gerdayak) Indonesia, Yansen A. Binti, melayangkan protes keras terkait kabar hilangnya plang bertuliskan semboyan khas Dayak, “Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata” di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Yansen mengungkapkan rasa prihatinnya dan menilai penghapusan semboyan tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap eksistensi masyarakat Dayak di tanah Borneo. Menurutnya, semboyan tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan simbol pemersatu dan bentuk dukungan masyarakat adat terhadap NKRI serta pembangunan IKN.

“Kami merasa ada upaya untuk memarjinalkan orang Dayak. Semboyan itu adalah identitas dan bentuk kesetiaan kami kepada bangsa. Mengapa harus dihilangkan? Ini sangat memukul perasaan kami,” ujar Yansen saat memberikan keterangan kepada awak media, Rabu (25/2).

Yansen menegaskan bahwa Gerdayak mengecam keras jika penghapusan tersebut dilakukan secara sengaja. Ia pun mempertanyakan apakah hal ini merupakan keteledoran pihak otorita atau ada unsur kesengajaan untuk memecah belah.

Ia mengingatkan bahwa berdirinya Indonesia didasarkan pada keberagaman suku bangsa. Oleh karena itu, ia meminta Presiden untuk turun tangan dan memerintahkan pihak terkait agar mengembalikan semboyan tersebut ke tempat semula.

“Kita sudah 80 tahun merdeka, masa orang Dayak masih belum dianggap? Kami minta Kepala Otorita IKN segera mengembalikan tulisan tersebut. Itu adalah hasil kesepakatan Munas MADN sebagai semboyan kita bersama,” tegasnya.

Selain menyoroti masalah simbol adat, Yansen juga menyinggung minimnya keterlibatan putra-putri daerah dalam pembangunan IKN. Berdasarkan pengamatannya, jumlah pekerja dari kalangan masyarakat Dayak di proyek IKN diperkirakan hanya sekitar 10 persen.

“Sangat sedikit orang Dayak yang bekerja di sana. Padahal itu kampung halaman kita. Saya mengimbau putra-putri Dayak untuk tidak ragu melamar pekerjaan di IKN, mulai dari level staf hingga tenaga teknis lainnya,” tambahnya.

Yansen berharap pemerintah lebih inklusif dan menghargai kearifan lokal dalam proses pembangunan ibu kota baru tersebut agar tidak muncul kesan bahwa masyarakat adat hanya menjadi penonton di rumah sendiri. (Bayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini