Kisah Pemilik Peternakan Ayam Hadapi Kebakaran Lahan Tiga Hari: Kram, Pusing, hingga Hampir Tumbang
BIMARAYA.COM, PALANGKA RAYA – Video kebakaran masuk ke ponsel Tirta pada tengah malam. Dalam rekaman itu, api terlihat membesar di lahan dekat Kali Farm, peternakan ayam petelur yang didirikannya di Kilometer 21 Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Keesokan paginya, Tirta bergegas menuju lokasi dengan membawa peralatan seadanya dari kota. Kebakaran yang berlangsung selama tiga hari, pada 11–13 Oktober 2026, membuatnya harus berhadapan langsung dengan kobaran api yang semakin mendekati area peternakan.
“Pasti panik. Semua orang pasti panik,” kata Tirta mengenang kejadian tersebut.
Pada hari pertama, suara ranting terbakar terdengar dari kejauhan. Asap yang membumbung menjadi tanda bahwa api terus bergerak mendekati lokasi.
Memasuki hari kedua, jarak api diperkirakan tinggal sekitar 5–10 meter dari area Kali Farm. Sebuah pohon di dekat peternakan bahkan sudah terbakar. Di tengah situasi itu, pompa air yang baru dibeli belum bisa berfungsi untuk mengalirkan air.
Hari ketiga menjadi momen paling menegangkan. Menurut Tirta, kobaran api muncul dari sisi kiri dan kanan sehingga ia bersama orang-orang di lokasi kesulitan menentukan bagian mana yang harus lebih dahulu dipadamkan.
“Kita bingung mau matiin yang kiri atau yang kanan,” ujarnya.
PUSARAN API MENYEBERANGI JALAN
Di tengah upaya mempertahankan area peternakan, Tirta mengaku menyaksikan kobaran api yang berputar menyerupai tornado. Menurut pengamatannya, kobaran tersebut menyeberangi jalan raya selebar sekitar 10 meter dan membakar lahan di seberangnya.
Situasi itu membuatnya harus segera memindahkan mobil yang terparkir di dekat lokasi. Pos penjagaan yang menjadi tempat tinggal keluarga penjaga lahan juga nyaris terdampak kobaran api.
“Kurang satu pohon lagi,” katanya menggambarkan jarak api yang hampir mencapai bangunan tersebut.
Keluarga yang masih tinggal di lokasi akhirnya dievakuasi. Tirta mengatakan, proses penyelamatan berlangsung di tengah kepungan asap dan api yang membuat jarak pandang serta kondisi pernapasan semakin tidak nyaman.
“Saya lari di tengah kepungan asap, kepungan api. Api kiri, api kanan, semua nyala. Asapnya pekat banget, mata pedih. Dikucek tambah parah, dibiarin juga enggak enak,” tuturnya.
SELANG BERAT DAN TUBUH YANG KELELAHAN
Selama tiga hari, api beberapa kali berhasil dipadamkan, tetapi kembali menyala. Tirta bersama warga sekitar terus berjaga dan berupaya memadamkan titik-titik api dari pagi hingga malam.
Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah penggunaan selang untuk mengalirkan air. Selang yang terlihat kecil ternyata terasa berat ketika sudah terisi air dan harus ditarik menuju titik kebakaran.
Pada hari ketiga, kelelahan mulai dirasakan. Tirta mengaku mengalami kram pada kaki dan tangannya setelah bekerja berulang kali di tengah upaya pemadaman.
“Di hari ketiga saya ngalamin kerja sampai kaki keram, tangan keram. Belum pernah saya ngalamin sebelumnya,” katanya.
Paparan asap juga membuatnya merasa pusing dan hampir terjatuh. Pengalaman tersebut berbeda dari musim asap yang selama ini ia lewati sebagai warga yang lahir dan besar di Kalimantan.
Tirta mengatakan, selama sekitar 30 tahun hidup di Kalimantan, ia telah berkali-kali melewati musim asap. Lahan yang dijaganya selama lebih dari 20 tahun itu pun, menurut dia, belum pernah mengalami kebakaran seperti kejadian kali ini.
“Tapi baru kali ini kita berhadapan dengan api secara langsung,” ujarnya.
PERSIAPAN BELUM SEPENUHNYA MENGHALAU API
Sebelum kebakaran terjadi, Tirta mengaku telah melakukan sejumlah persiapan sejak musim asap dimulai. Langkah tersebut antara lain membersihkan lahan di sekitar bangunan serta menyiapkan tandon dan pompa air.
Persiapan itu dinilainya membantu ketika api mendekati area peternakan. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu menghalau kobaran api, terutama ketika api bergerak disertai angin kencang.
Tirta menyebut sekat selebar sekitar tujuh meter yang dibuat di sekitar area tersebut masih belum cukup untuk menghadapi kondisi kebakaran saat itu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BNPB Kalteng, Kodam XXII Tambun Bungai, tim Kali Group, serta warga sekitar yang turut membantu upaya pemadaman.
Kini, menurut Tirta, kondisi Kali Farm telah aman. Meski demikian, penjagaan belum dihentikan. Penerangan pada malam hari ditambah, sementara koordinasi dengan warga sekitar terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya api kembali.
Bagi Tirta, kejadian tersebut bukan sekadar ancaman terhadap peternakan yang dibangunnya. Pengalaman itu juga memperkuat keterikatannya dengan tempat ia tumbuh dan menjalani kehidupan.
“Saya lahir dan besar di sini. Saya orang Dayak. Intinya, it takes courage to believe in home,” katanya.
TENTANG KALI FARM
Kali Farm merupakan peternakan ayam petelur di Kilometer 21 Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha tersebut didirikan oleh Tirta dan berada di bawah PT Kali Aja Bisa (Kali Group), perusahaan asal Palangka Raya yang bergerak di sektor peternakan dan perkebunan. (red)
Ikuti Bimaraya.com di WhatsApp
Dapatkan berita terbaru, informasi penting, dan update terkini dari Bimaraya.com langsung melalui saluran WhatsApp resmi kami.
Ikuti Saluran WhatsAppDukung Jurnalisme Independen Bimaraya
Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Bimaraya.com lebih mudah ditemukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).
⭐ Jadikan Bimaraya Sumber Pilihan





Tinggalkan Balasan