Bima Raya

Mengabarkan Lebih Luas

BPS Kalteng Catat Inflasi April 2026 Capai 0,41 Persen, Kenaikan Harga Beras dan Penyesuaian BBM Jadi Pemicu Utama Tekanan Harga

Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, M. Taufiqurrahman.

BIMARAYA.COM, PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat bahwa pada April 2026 terjadi inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,41 persen terhadap Maret 2026.

Berdasarkan data BPS Kalteng, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi kontributor utama yang memberikan andil inflasi terbesar, yakni sebesar 0,15 persen.

Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, M. Taufiqurrahman, dalam penjelasannya menyebutkan, bahwa kenaikan harga beras menjadi faktor krusial di balik angka inflasi tersebut. Hal itu, dipicu oleh kondisi lapangan di mana sebagian besar wilayah sentra produksi belum memasuki masa panen raya.

“Harga beras mengalami kenaikan dikarenakan belum memasuki masa panen terutama kualitas lokal sehingga stoknya terbatas. Selain itu, harga beras dari Jawa juga mengalami kenaikan,” jelas M. Taufiqurrahman saat memaparkan rilis statistik di Kantor BPS Kalteng, Senin (4/5/2026).

Selain komoditas pangan, sektor transportasi juga menyumbang andil inflasi yang signifikan sebesar 0,10 persen. Hal ini tidak terlepas dari adanya penyesuaian tarif angkutan udara serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi.

Tercatat per 18 April 2026, Pertamina melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produk seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang kemudian berdampak pada biaya operasional dan logistik.

Meskipun terdapat tekanan dari harga beras dan BBM, laju inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga pada beberapa komoditas lainnya. Daging ayam ras dan cabai rawit mengalami penurunan harga setelah melewati puncak permintaan pada momen Ramadan dan Idulfitri.

“Harga daging ayam ras cenderung kembali ke harga normal setelah naik tinggi pada momen Ramadan dan Idulfitri. Demikian juga harga cabai rawit yang kembali ke harga normal sebelum lebaran,” tambah Taufiqurrahman.

Secara tahunan (year-on-year), Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 3,66 persen pada April 2026 jika dibandingkan dengan April 2025.

Dalam cakupan tahunan, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi yakni 0,64 persen, disusul oleh beras dengan andil 0,50 persen. Faktor geopolitik global juga tercatat memberikan pengaruh tidak langsung terhadap kenaikan biaya produksi dan harga komoditas berbasis minyak nabati maupun plastik di daerah.

Hingga saat ini, inflasi tahun kalender (Januari-April 2026) di Kalimantan Tengah berada pada angka 1,81 persen. Taufiqurrahman melanjutkan, bahwa berdasarkan pemantauan pihaknya pada empat kabupaten/kota di Kalteng yang menjadi acuan tercatat mengalami inflasi seluruhnya.

“Hasil pemantauan BPS pada keempat kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah, seluruhnya tercatat mengalami inflasi baik secara month-to-month maupun year-on-year pada April 2026,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini