Nurhalina Raih Gelar Doktor UI Lewat Riset Dampak Merkuri terhadap Balita, Dorong Pemerintah Integrasikan Intervensi Gizi dan Kesehatan Lingkungan
BIMARAYA.COM, PALANGKA RAYA – Mahasiswi Program Studi S3 Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Nurhalina, meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Aula FKM UI, Jumat, 26 Juni 2026.
Disertasi yang dipertahankannya berjudul “Dampak Pajanan Merkuri terhadap Status Gizi Balita di Daerah Pertambangan Emas Skala Kecil Kabupaten Gunung Mas.”
Dalam paparannya, Nurhalina menjelaskan bahwa status gizi anak merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Namun, pada 2020 masih terdapat 149,2 juta atau 22 persen anak balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang gagal mencapai potensi tumbuh kembangnya.
“Dalam beberapa tahun terakhir, strategi pengendalian malnutrisi telah menurunkan prevalensi stunting, gizi kurang/buruk, dan underweight, namun capaian tersebut belum memenuhi target SDGs sampai tahun 2030,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara pajanan merkuri dengan ukuran antropometri anak pada fase prenatal maupun pascanatal.
Merkuri diketahui dapat mengganggu metabolisme karbohidrat, sintesis protein, aktivitas antioksidan, serta penyerapan vitamin dan mineral.
“Dampaknya, merkuri menginaktivasi enzim untuk metabolisme karbohidrat, menghambat sintesis protein, menghambat aktivitas antioksidan, meningkatkan peroksidase lipid, serta mengganggu penyerapan vitamin dan mineral,” katanya.
Menurut Nurhalina, selama ini pencegahan masalah gizi masih berfokus pada intervensi gizi dan belum memperhatikan dampak pajanan logam berat seperti merkuri.
“Selama ini pencegahan masalah gizi masih berfokus pada intervensi gizi, namun belum memperhatikan keterlibatan pajanan logam berat seperti merkuri dalam kerangka kerja global karena minimnya penelitian terkait,” ujarnya.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan cross-sectional terhadap 146 balita yang berdomisili di kawasan pertambangan emas skala kecil di Kabupaten Gunung Mas. Hasilnya menunjukkan bahwa balita terpajan merkuri melalui konsumsi ikan yang terkontaminasi.
Nurhalina menemukan bahwa konsentrasi merkuri dalam rambut merupakan faktor yang paling berperan terhadap status gizi balita. Balita dengan konsentrasi merkuri rambut ≥0,163 mg/kg berisiko 19,4 kali mengalami gizi kurang atau gizi buruk, 8,4 kali mengalami stunting, dan 18,8 kali mengalami underweight.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Nurhalina menyarankan pemerintah menyusun kebijakan pencegahan pencemaran merkuri, melakukan pemantauan rutin terhadap pajanan merkuri dan keamanan pangan, serta memperkuat penanganan kelompok yang terdampak.
“Kami merekomendasikan integrasi intervensi gizi dan kesehatan lingkungan dalam kerangka kerja nasional untuk pencegahan dan tatalaksana malnutrisi di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan pajanan merkuri yang tinggi,” pungkasnya.
Untuk diketahui, sidang promosi doktor tersebut dipimpin Prof. Dr. drg. Ririn Arminsih Wulandari, M.Kes., dengan promotor Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc., serta ko-promotor dr. Syahrizal Syarif, MPH., Ph.D., dan Prof. Drs. Apt. Bambang Wispriyono, Ph.D.
Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Besral, SKM., M.Sc., Dr. dr. Helda, M.Kes., dr. Soewarta Kosen, MPH., Dr.PH., dan Dr. Suwito, SKM., M.Kes., MH. (red)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan