Bima Raya

Mengabarkan Lebih Luas

Aksi Jilid II Gerakan Palangka Raya Gelap, Peternak Ayam Buang Bangkai di Kantor PLN Usai Alami Kerugian Besar Akibat Listrik Padam

Ratusan bangkai ayam berserakan di depan Kantor PT PLN (Persero) UP3 Palangka Raya saat aksi demonstrasi jilid II Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG), Rabu (29/7/2026).

BIMARAYA.COM, PALANGKA RAYA – Ratusan bangkai ayam ditumpahkan di depan gerbang Kantor PT PLN (Persero) UP3 Palangka Raya, Rabu (29/07/2026), dalam aksi demonstrasi jilid II Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG). Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes peternak ayam, pelaku UMKM, dan masyarakat yang mengaku mengalami kerugian akibat pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Tengah.

Massa datang menggunakan mobil pikap yang mengangkut bangkai ayam sebelum menurunkannya hingga berserakan di depan kantor PLN. Demonstrasi berlangsung di bawah pengamanan aparat kepolisian. Para peserta aksi juga membawa spanduk berisi tuntutan agar PLN bertanggung jawab atas gangguan pasokan listrik yang dinilai telah mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.

Bangkai ayam yang dibawa dalam aksi tersebut berasal dari peternakan milik Arif, peternak ayam broiler sistem close house di Kilometer 45 arah Kasongan. Ia mengaku ratusan ayam mati setelah listrik padam dan sistem ventilasi kandang berhenti beroperasi karena genset cadangan mengalami gangguan.

“Oh ya, milik saya. Kerugian besoklah kita bawa. Secara detail kita… karena besok sama admin kita rinci berapa kerugian kita. Tidak hanya ayam, juga penambahan amunisi setiap harinya solar. Kami harus mengeluarkan Rp3 juta setiap harinya. Satu genset itu satu tangki,” ujar Arif.

Menurut Arif, pemadaman listrik membuat biaya operasional peternakan meningkat tajam. Genset harus beroperasi selama berjam-jam setiap hari untuk menjaga kondisi kandang tetap stabil, sementara kebutuhan solar non-subsidi juga sulit dipenuhi karena pembelian di SPBU dibatasi.

“Kemudian sulitnya untuk mendapatkan solar non-subsidi karena setiap SPBU itu dibatasi satu tangki. Jadi kami menyiasati mobilnya dipenuhi baru disedot. Kemudian besoknya seperti itu berulang kali. Jadi semakin dipersulit seolah-olah kebutuhan peternak,” katanya.

Ia berharap PLN segera menghentikan pemadaman bergilir dan memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, Arif mendukung tuntutan massa yang meminta evaluasi terhadap manajemen PLN.

“Harapan kami semuanya harus jelas. Ke depannya tidak ada pemadaman lagi. Sesuai yang disampaikan ketua tadi, kami menuntut Manajer PLN Palangka Raya dan Kalselteng mengundurkan diri. Saya anggap sudah tidak mampu,” ucapnya.

Arif menjelaskan, pemadaman listrik sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kerugian terbesar terjadi ketika genset yang menjadi sumber listrik cadangan mengalami overload setelah digunakan terus-menerus selama sekitar enam jam setiap hari.

“Kemarin puncaknya karena genset kami mengalami overload. Bukan gensetnya yang rusak, tetapi selang solar lepas karena panas. Saat diperbaiki, ventilasi berhenti sehingga banyak ayam kami mati,” katanya.

Menurut dia, jadwal pemadaman yang diberlakukan tidak cukup melindungi peternakan ayam sistem tertutup. Ayam yang telah menghirup amonia di dalam kandang tetap berisiko mati meski aliran listrik kembali menyala.

“Iya, karena ayam sudah terlanjur menghirup amonia,” ujarnya.

Sebagian ayam masih dapat diselamatkan dengan dipindahkan ke area terbuka hingga sirkulasi udara kembali normal.

Sementara itu, perwakilan peternak Kalimantan Tengah, Satrio, mengatakan aksi tersebut merupakan lanjutan demonstrasi sehari sebelumnya. Ia mengaku awalnya menguburkan ayam miliknya yang mati akibat pemadaman listrik, tetapi memutuskan mengajak peternak lain setelah mengetahui kerugian serupa juga dialami rekan-rekannya.

“Saya kemarin menyuarakan kerugian saya sendiri. Ayam saya yang mati saya kubur. Ternyata setelah aksi, ayam milik peternak lain juga mati. Karena itu saya mengajak teman-teman peternak untuk bersama-sama menyampaikan aspirasi,” kata Satrio.

Menurutnya, dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan peternak ayam, tetapi juga berbagai sektor usaha lain seperti rumah makan, laundry, hingga jasa pangkas rambut yang bergantung pada pasokan listrik.

“Semua pelaku usaha terdampak. Rumah makan stok ayam dan ikannya busuk, laundry tidak bisa bekerja, pangkas rambut juga tidak bisa mencari uang,” ujarnya.

Satrio mengajak masyarakat yang mengalami kerugian akibat pemadaman listrik untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada PLN agar persoalan tersebut mendapat perhatian serius.

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Saya mengajak seluruh masyarakat yang terdampak datang ke kantor PLN. Kita minta pertanggungjawaban dan berharap bisa bertemu dengan General Manager untuk mencari solusi bersama,” katanya.

Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap berharap dialog dengan manajemen PLN menghasilkan langkah konkret untuk menghentikan pemadaman listrik bergilir, memulihkan keandalan pasokan listrik di Kalimantan Tengah, serta memberikan kepastian pelayanan bagi masyarakat dan dunia usaha. (red)

📢

Ikuti Bimaraya.com di WhatsApp

Dapatkan berita terbaru, informasi penting, dan update terkini dari Bimaraya.com langsung melalui saluran WhatsApp resmi kami.

Ikuti Saluran WhatsApp
📰

Dukung Jurnalisme Independen Bimaraya

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Bimaraya.com lebih mudah ditemukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Bimaraya Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini